Teori Alam Semesta Lain Parallel Universes


Dunia paralel (parallel universes) adalah sebuah dunia yang berjalan sejajar dengan alam semesta ini. Di samping kehidupan yang dikenal sekarang, ada satu atau lebih kehidupan lain yang juga berjalan secara bersamaan dalam dunia paralel. Pada awalnya dunia paralel hanya dianggap sebagai sebuah khayalan dalam cerita film science fiction, tapi kini makin banyak teori yang dijadikan jembatan untuk menjelaskan dan mendukung keberadaan dari dunia paralel tersebut. Para ilmuwan fisika berada di garis depan sebagai pihak yang mencoba menjelaskan kemungkinan keberadaan dunia paralel.
Ahli fisika Dr. Michio Kaku menganalogikan keberadaan dunia paralel bagi kita seperti adanya daerah luar kolam bagi seekor ikan gurami yang tinggal dalam sebuah kolam. Ikan gurami tersebut tidak dapat melihat daerah luar kolam karena keterbatasan kemampuan yang ia miliki. Demikian juga, manusia belum bisa melihat alam semesta lainnya dengan alasan yang sama. Meski ikan gurami tidak bisa melihat kehidupan lain yang ada di luar kolam, tapi dia bisa tahu ada kehidupan lain dari getaran yang ia rasakan melalui gelombang di permukaan air kolam akibat adanya tetesan air hujan. Getaran yang dirasakan ikan gurami itu adalah gravitasi dan cahaya dari alam semesta lain. Berikut ini adalah tutorial dokumentasi dari Dr. Michio Kaku mengenai alam semesta paralel.



Parallel Universes dan Deja Vu
Selain itu menurut Dr. Michio Kaku, menyatakan bahwa ada kemungkinan bahwa deja vu mungkin disebabkan oleh kemampuan seseorang untuk menyelip diantara dua alam semesta yang berbeda. Deja vu berasal dari Bahasa Prancis yang memiliki arti pernah melihat. Deja vu adalah fenomena yang umum namun masih sangat sedikit untuk dapat dipahami. Sebagian orang saat berada ditempat yang baru namun orang tersebut merasa yakin bahwa orang tersebut pernah berada disana sebelumnya, namun seringkali orang merasa kesulitan untuk memahami bagaimana hal tersebut mungkin terjadi padahal seingat orang tersebut tidak pernah kesana sebelumnya.
Para pakar psikologi menyebutkan bahwa deja vu mungkin terjadi ketika aspek-aspek tertentu dari sebuah situasi saat ini, mirip dengan aspek-aspek tertentu dari situasi yang pernah terjadi sebelumnya. Jika banyak terjadi tumpang tindih antara unsur-unsur dari situasi yang lama dengan siatuasi yang baru maka seseorang akan mendapatkan perasaan kesamaan yang sangat kuat.
Dr. Michio Kaku menyebutkan nama Professor Steve Weinberg seorang ahli teori fisika dan pemenang hadiah nobel sebagai pendukung gagasan dari multiverse. Weinberg menyebutkan bahwa ada jumlah yang tak terbatas dari dunia paralel bersamaan dengan alam semesta ini dalam ruangan yang sama. Ada ratusan gelombang radio berbeda yang disiarkan alam semesta dari stasiun-stasiun yang jaraknya berbeda-beda. Setiap stasiun radio memiliki frekuensi yang berbeda, energi yang berbeda akibatnya radio hanya dapat beralih ke salah satu siaran radio dalam satu waktu. Demikian juga dengan alam semesta ini, manusia hanya mampu mengakses frekuensi yang sesuai dengan realitas fisik manusia tersebut.
Namun ada jumlah tak terbatas dari realita paralel yang bersamaan berjalan dengan alam semesta ini di ruang yang sama namun manusia tidak dapat mengatur untuk dapat pindah ke dunia paralel yang satu ke yang lainnya.
Alam semesta biasanya tidak berada dalam fase yang bergetar pada frekuensi yang sama, yang satu dan lainnya, karena selisih yang disebabkan oleh waktu, namun disaat mereka berada dalam fase secara teoritis manusia dapat merasakan resonansi di antara alam-alam semesta itu.
Jadi meskipun masih belum pasti, sebatas gagasan, namun bisa jadi bahwa pada saat seseorang mengalami deja vu, orang tersebut bergetar bersama-sama, dengan dunia paralel yang lainnya seperti yang dikemukakan oleh Dr Michio Kaku. Mungkin saja pengalaman deja vu seseorang adalah jendela bagi dunia paralel.
Dasar teori dunia paralel adalah tidak ada batasan jagad raya yang memberikan kemungkinan adanya alam semesta lain. Pada saat ini diperkirakan ada lebih dari ribuan galaksi di alam semesta. Jadi, bukan tidak mungkin jika selain di galaksi yang ada di alam semesta ini ada kehidupan yang juga sedang berlangsung. Para ahli fisika quantum jelas-jelas menyatakan percaya bahwa tiap detik tercipta dunia paralel dari seseorang, yang berisi kemungkinan kejadian, termasuk kebalikan dari peristiwa yang dialami di dunia nyata. Misalnya di dunia nyata seseorang bisa menyebrang jalan dengan selamat. Tapi berbeda di dunia paralel lainnya, orang tersebut bisa saja berhasil menyeberang tapi kemudian tersungkur, sedangkan di dunia paralel yang berbeda lagi orang tersebut tidak berhasil selamat menyebrang jalan karena ada mobil yang sedang melaju kencang menabraknya.
Bagi yang pernah menonton film The One yang dibintangi Jet Li mungkin sedikit paham dengan definisi dunia paralel, dimana diceritakan dalam film tersebut bahwa perpindahan antara dunia satu ke dunia yang lain adalah mungkin. Ada teori yang menggambarkan keberadaan dunia paralel sebagai dunia maya, tetapi manusia tidak bisa berinteraksi dengan entitas di dalamnya. Teori ini mengilustrasikan sifat paralel dunia ini dengan banyak garis yang saling bersilangan. Dimana satu garis menggambarkan sebuah alam semesta. Dalam fisika quantum, dunia paralel ada, ketika manusia dihadapkan pada suatu persimpangan, atau suatu hal yang membuat seseorang memilih. Penjelasan ini dapat dipermudah, dengan menggunakan percobaan kucing Schrodinger. Percobaan ini dilakukan dengan mengubur sebuah kotak yang di dalamnya ada kucing. Dimana saat pelaku melakukan percobaan memutuskan untuk membuka kotak maka dengan sendirinya akan tercipta dua dunia yang baru. Dunia pertama dimana kucing ditemukan hidup, dan dunia satunya dimana kucing ditemukan mati.

Tingkatan Parallel Universes
Adalah Max Tegmark seorang ahli fisika dan astronomi di sekaligus professor Universitas Pennsylvania sangat percaya keberadaan alam semesta paralel ini. Dalam salah satu artikelnya Max Tegmark mengungkapkan bahwa ada 4 tingkatan alam semesta paralel.

Level 1: Beyond Cosmic Horizon
Merupakan teori tentang dunia paralel yang paling kecil tingkat kontoversinya. Teori ini menyatakan bahwa dunia paralel tidak dapat dilihat karena dunia paralel tersebut berada di luar garis horizon alam semesta ini. Analoginya seperti melihat kapal di tengah laut. Seseorang tidak dapat melihat kapal apabila ia berada di luar horizon tersebut. Tetapi jika kapal itu mendekat, dan masuk dalam horizon, seseorang akan dapat melihat kapal itu sedikit demi sedikit. Pada dunia paralel level I oleh ahli fisika digambarkan bahwa alam semesta seperti gelembung udara yang saling berdesak-desakan dalam ruang yang disebut jagad raya.

Level 2: Other Post Inflation Bubbles
Pada level ini menyatakan, bila alam semesta pada level 1 dapat dikelompokkan menjadi satu multiverse, maka jagad raya ini terdapat banyak multiverse. Teori ini didasarkan pada teori Chaotic Eternal Inflation, yang menyatakan bahwa jagad raya terus berkembang semakin membesar sejak terjadinya big bang hingga sekarang. Teori ini menyatakan bahwa selamanya tidak dapat melihat multiverse lainnya dikarenakan cepatnya perkembangan jagad raya yang menjadi perantara multiverse.

Level 3: Quantum Many Worlds
Teori ini menyatakan bahwa alam semesta lainnya berada di sekitar dunia ini. Teori ini berkembang dari teori mekanika quantum yang menyatakan bahwa proses quantum acak menyebabkan alam semesta bercabang dengan banyaknnya kemungkinan yang terjadi. Perbedaan mendasar pada level 1 dan 3 adalah letak alam semesta yang sama dengan alam semesta ini. Pada level 1 menyatakan bahwa alam semesta yang sama dengan alam semesta ini berada diluar horizon, sedangkan pada level 3 mengatakan alam semesta yang sama dengan alam semesta ini berada pada cabang quantum lainnya. Level 3 merupakan teori dunia paralel yang paling tinggi tingkat kontroversinya, karena teori ini berkembang dari teori mekanika quantum yang juga penuh dengan kontoversi.

Level 4: Other Mathematical Structures
Merupakan teori dunia paralel yang matematis dan menggunakan semua kemungkinan yang ada. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta lainnya tidak hanya berada di luar horizon alam semesta tetapi juga berbeda dengan alam semesta ini dalam segala hal, seperti waktu, hukum fisika, dan jagad raya. Alam semesta pada level 4 ini sangat sulit untuk digambarkan karena banyaknya kemungkinan yang dapat terjadi. Salah satu teori adanya dunia paralel ini dikemukakan oleh dua orang ahli fisika, Dr. Robert Foot dan Dr. Saibal Mitra, di Melbourne, Australia. Bukti tersebut mereka temukan pada penelitian asteroid Eros berupa adanya percikan mirror matter. Mereka mendefinisikan mirror matter sebagai bayang cermin dari sesuatu yang ada di alam semesta sebagai pembuat stabil alam semesta. Untuk mirror matter ini ada sebagai pemenuhan alam yang selalu simetris dan mempunyai dua sisi, kanan dan kiri. Alam semesta adalah sisi kiri dan mirror matter adalah sisi kanannya. Pada saat ini manusia belum dapat melihat keberadaan mirror matter karena ia berinteraksi dengan alam semesta kita hanya melalui gravitasi.